Refleksi tentang Sejarah dalam Pemakaman Tuan James E. Auer
Dari kolom reguler Yoshihisa Komori di Sankei Shimbun edisi hari ini — Bacaan wajib, tidak hanya bagi rakyat Jepang, tetapi juga bagi seluruh dunia.
Saya menghadiri upacara penyebaran abu mendiang James E. Auer — mantan Direktur Urusan Jepang di Departemen Pertahanan Amerika Serikat — ke laut lepas Jepang. Acara ini tidak hanya mengenang kontribusinya terhadap aliansi Jepang-Amerika, tetapi juga mengingatkan saya akan kenyataan bahwa sejarah senantiasa berulang.
Upacara pemakaman bersama Jepang-Amerika ini diadakan pada 12 Juli di atas kapal bantu penyapu ranjau Bungo milik Pasukan Bela Diri Maritim Jepang, di perairan lepas pantai Maizuru. Upacara ini dilaksanakan sesuai dengan keinginan pribadi Tuan Auer agar abunya dilarung di perairan Jepang.
Saya pertama kali mengenal Tuan Auer pada tahun 1979, saat ia menjabat sebagai Direktur Urusan Jepang di Pentagon di bawah pemerintahan Presiden Carter.
Segera setelah tahun baru, pemerintah AS melakukan perubahan drastis terhadap kebijakan pertahanan yang telah lama dipegangnya, dan mulai secara terbuka menuntut peningkatan besar dalam anggaran pertahanan Jepang.
Tuntutan-tuntutan tersebut jauh lebih keras dibandingkan dengan ekspektasi yang relatif moderat yang terlihat di bawah pemerintahan Trump saat ini.
Namun, satu hal yang tetap konsisten adalah bahwa pengeluaran pertahanan Jepang telah menjadi isu utama dalam kebijakan nasional Amerika.
Presiden Jimmy Carter, seorang Demokrat liberal, mengambil sikap politik luar negeri yang sangat damai dan berdamai, sebagian sebagai reaksi atas trauma Perang Vietnam.
Secara khusus, ia menunjukkan sikap terhadap Uni Soviet — yang saat itu tengah memperluas pengaruh globalnya — yang bahkan bisa disebut sebagai kerja sama dan niat baik.
Namun, Uni Soviet tidak membalas dengan sikap serupa; justru mereka menafsirkan sikap tersebut sebagai kelemahan dan mulai memperluas pengaruh komunisme di berbagai negara.
Ekspansi paling agresif dari sikap ini terjadi pada akhir tahun 1979, ketika Uni Soviet melancarkan invasi militer besar-besaran ke Afghanistan.
Presiden Carter kemudian secara terbuka mengakui bahwa ia telah salah menilai niat Uni Soviet, dan mulai mengarahkan kebijakan untuk memperkuat pertahanan Barat.
Akibatnya, pemerintah AS mengeluarkan pernyataan resmi yang meminta "peningkatan yang stabil dan signifikan" dalam anggaran pertahanan Jepang.
Ini merupakan kebalikan total dari pernyataan Carter beberapa bulan sebelumnya, ketika ia mengatakan bahwa kebijakan Jepang untuk mempertahankan pengeluaran pertahanan di bawah 1% dari PDB tidak menjadi masalah bagi AS.
Namun, pada saat itu, pemerintah Jepang tidak menanggapi permintaan peningkatan anggaran tersebut.
Masih merupakan era yang sangat dipengaruhi oleh paham pasifisme tanpa perlawanan, yang percaya bahwa "memperkuat pertahanan akan memicu perang."
Menanggapi anggaran pertahanan Jepang tahun 1980, Menteri Pertahanan AS Harold Brown mengeluarkan protes keras, menyebutnya sebagai "tindakan kepuasan diri yang tidak dapat dibenarkan."
Sekelompok anggota parlemen bipartisan dari kedua kamar Kongres AS, bersama dengan editorial surat kabar besar, bahkan menuduh Jepang "menumpang gratis" dalam sistem pertahanan bersama.
Kekecewaan Amerika ini semakin membesar setelah pemerintahan konservatif Ronald Reagan mulai menjabat pada tahun 1981.
Namun, bahkan di bawah Carter, filosofi dasarnya tetap bahwa "pembangunan militer mencegah perang."
Tokoh kunci dalam pemerintahan AS yang menjembatani kesenjangan pemahaman antara kedua negara tersebut tidak lain adalah Tuan Auer sendiri.
Dengan dukungan kuat dari Menteri Pertahanan Caspar Weinberger — atasannya langsung di era Reagan — Tuan Auer memanfaatkan jaringan lamanya dengan birokrat, politisi, dan media Jepang untuk menjelaskan strategi Amerika dan realitas ancaman militer Soviet.
Pada saat yang sama, ia juga bekerja keras untuk mengedukasi dan mengoreksi retorika anti-Jepang yang kasar dari sebagian kalangan di Amerika Serikat.
Upayanya berkontribusi besar terhadap era kerja sama pertahanan yang erat antara pemerintahan Reagan dan Nakasone.
Kerja sama ini pada akhirnya berperan dalam runtuhnya rezim komunis Soviet — sebuah peristiwa bersejarah.
Oleh karena itu, pentingnya kerja sama pertahanan Jepang-Amerika yang diperjuangkan oleh Tuan Auer masih memiliki gaung internasional hingga hari ini.
Mengingat semua ini, pernyataan-pernyataan Jepang belakangan seperti "Jepang akan menentukan sendiri anggaran pertahanannya" atau "Jangan remehkan kami, Amerika" terasa sangat tidak pantas bagi saya.
— Koresponden tamu dari Washington